Milen tertegun sejenak. Ia melepaskan rangkulannya dan sempat salah tingkah dengan memainkan kuku-kuku cantiknya. Namun, ia segera memasang senyum manisnya kembali. Milen akhirnya berdeham, ia mendekat dan berbisik sangat lirih di telingaku. "Jujur saja, Pak Prabu menjanjikan aku hadiah tas bermerek kalau aku bisa bawa teman baru yang tipenya pas sama selera dia." Aku menatap Milen penuh tanya. Dan sudah kuduga, Milen hanya ingin mendapatkan keuntungan dari mengajakku. Gila, apa Prabu Atmaja adalah maniak seks. "Di kampus ini mahasiswi cantik memang banyak, tapi yang masih polos dan natural kayak kamu itu membosankan banget dicarinya. Kamu itu langka, Alea." Aku menelan ludah, rasa jijikku pada Milen sudah mencapai puncaknya. Dia benar-benar menjual temannya sendiri demi sebuah tas

