Aku gemetar. Tatapan Kalandra benar-benar mengunci pergerakanku. Aku tahu, melawan hanya akan memperburuk keadaan. Dengan tangan dingin, aku melepas jaketku. Lalu, kancing kemeja kubuka satu per satu. Perlahan, kain itu jatuh ke lantai mobil. Kini aku hanya mengenakan bra dan celana dalam di hadapannya. "Sudah, Mas?" bisikku malu. Kalandra tidak menjawab. Ia justru menarik pinggangku dengan sentakan kuat. Tubuhku terangkat, berpindah dengan cepat ke atas pangkuannya. "Mas—" Belum sempat aku bicara, bibirnya sudah membungkam mulutku. Ia melahapku dengan kasar, seolah ingin menghapus jejak apa pun yang bukan miliknya. Napasnya memburu di ceruk leherku. Tangannya merayap di punggungku, mencengkeram kulitku dengan posesif. "Hanya aku, Alea," geramnya di sela ciuman. "Hanya

