Pintu kamar VVIP perlahan terbuka. Elang melangkah masuk, namun ada yang aneh dengan pengacaraku itu. Di ambang pintu, Elang mematung sempurna. Matanya yang biasanya menatap tajam dan merendahkan, kini melotot lebar. Rahangnya mengeras, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Sistem sarafnya yang biasa sedingin es seperti mengalami eror massal. Salsa mengekor di belakangnya dengan wajah menunduk, menahan malu yang luar biasa. "A-ayo masuk," perintah Elang dengan suara serak yang sangat janggal, berbalik kaku bak robot kehabisan oli. "Mbak Alea! Eh, maksudnya ... Alea!" sapa Salsa buru-buru meralat panggilannya. Dokter muda itu berusaha keras terdengar ceria untuk menutupi kecanggungannya. "Ya ampun, selamat ya! Aku ikut seneng banget dengar kabar kehamilannya!" Alea tersenyum hanga

