Aku masih duduk di tepi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Alea dengan sangat erat. Jari-jarinya terasa jauh lebih hangat sekarang. Wajah pucatnya perlahan mulai memunculkan semburat warna seiring dengan napasnya yang semakin teratur. Istriku akhirnya tertidur pulas setelah kelelahan yang luar biasa. Getaran panjang dari ponsel di dalam saku jas menyadarkanku dari lamunan. Nama Elang Pratama muncul di layar yang menyala. Aku mengecup punggung tangan Alea sejenak, meletakkannya perlahan di atas selimut, lalu berjalan menjauh menuju sudut ruangan dekat jendela agar suaraku tidak mengganggu tidurnya. "Halo, Lang," sapaku dengan suara yang jauh lebih ringan dari biasanya. Beban yang selama ini menghimpit pundakku seolah menguap begitu saja. "Selamat sore, Pak Kalandra. Kaset rekama

