Aku menatap Kalandra yang masih menunggu jawaban. Sendok berisi nasi dan ayam bakar itu tertahan di udara. Di kepalaku, plat nomor B 1001 LNA itu terus terbayang. Nama Laluna terasa sudah di ujung lidah, siap tumpah bersama rasa cemas yang sejak tadi menekan dadaku. Namun, melihat raut lelah di wajahnya dan tumpukan berkas di meja kerjanya, aku mengurungkan niat. Kalandra sedang sibuk mengurus operasional kantor menjelang libur Imlek. Jika aku bercerita tentang mobil yang menguntitku, dia pasti akan panik dan pekerjaannya terganggu. Aku menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Aneh kenapa, Sayang?" tanya Kalandra lagi, matanya menyelidik. "Tadi di jalan, aku lihat ada toko kue baru yang antreannya panjang sekali," jawabku cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Padahal temp

