Sekitar sepuluh menit aku duduk sendirian di dalam mobil, mengingat kembali kejadian di meja kerja tadi. Pipiku masih terasa panas saat mengingat betapa beraninya aku menggoda Kalandra di jam kantor. Lamunanku terhenti ketika melihat Kalandra berjalan kembali dari arah pos keamanan. Langkahnya tidak sesantai tadi. Bahunya terlihat tegang, dan rahangnya mengeras seperti orang yang sedang menahan marah. Matanya menatap tajam ke arah jalan raya sebelum akhirnya ia sampai di samping mobil. Wajahnya tetap datar, tetapi ada sedikit rasa khawatir yang terlihat jelas. Namun begitu ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi, ekspresinya berubah cepat. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum manis, seolah ketegangan yang kulihat tadi tidak pernah ada. "Sudah menunggu lama ya? Maaf, tadi ad

