Pagi itu, cahaya matahari menyelinap dari celah tirai kamar kami yang tebal, menyapu permukaan ranjang. Aku mengerjap pelan, menyesuaikan diri dengan terangnya hari. Hal pertama yang kurasakan adalah kehangatan yang masih tersisa di sisi ranjang sebelahku. Tapi saat tanganku meraba sprei itu, Kalandra sudah nggak berbaring di sana. Sayup-sayup terdengar langkah kaki yang berat dan tegas. Kalandra keluar dari ruang ganti, sudah rapi dengan kemeja kerja biru gelap yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya masih sedikit basah, tersisir rapi ke belakang, memancarkan aura tegas yang selalu berhasil membuatku terpaku. Mendengar aku bergerak, Kalandra menoleh. Senyum hangat langsung muncul di bibirnya. "Sudah bangun, Sayang?" sapanya dengan suara bariton yang dalam. Ia berjalan mend

