163 - Author Pov (6)

1541 Kata

"Alea, maafkan aku, maaf." "Seandainya aku tidak membiarkan kamu keluar. Seandainya aku tak mendiamkan kamu, sialan!!!" Kalandra memukul tembok rumah sakit sambil meratapi kebodohannya sendiri. Kalandra hanya bisa duduk terdiam di kursi tunggu rumah sakit. Kepalanya tertunduk, sementara bercak darah di kemejanya mulai mengeras. Pintu ruang UGD di depannya masih tertutup rapat sejak satu jam yang lalu. "Bangun, Alea, aku lebih baik mati jika terjadi sesuatu dengan kamu," ucapnya lirih. Suara langkah kaki cepat terdengar dari ujung lorong. Ibu Marine datang dengan wajah pucat, didampingi oleh seorang asisten. Begitu melihat Kalandra, Ibu Marine langsung mempercepat langkahnya. "Kalandra!" suara Ibu Marine meninggi, bergema di lorong yang sunyi. Kalandra mendongak pelan, tapi dia tid

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN