"Aku nggak tahu persisnya, Alea! Tapi Pak Prabu bilang semalam semuanya kacau dan dia lagi stres berat. Aku sudah coba macam-macam, tapi aku nggak bisa buat dia tenang," sahut Milen dengan nada frustrasi sekaligus iri. Aku menatap Milen dengan kening berkerut, mencoba mencerna maksud ucapannya. "Lalu ... hubungannya denganku apa?" "Kamu yang bisa, kayaknya sih gitu. Dia terus-terusan nyebut soal bibir dan suaramu," Milen mendorong bahuku kasar. "Udahlah, jangan banyak tanya! Aku juga maunya Pak Prabu tergantung hanya ke aku, tapi dia lebih suka kamu." "A-Apa?" Aku menatap Milen tak percaya sekaligus jijik. Siapa yang sudi, batinku. Aku terpaksa melangkah karna aku ingin tahu apa yang diinginkan pria itu. Apakah Prabu mulai curiga, atau dia benar-benar hanya ingin melampiaskan keke

