Kalandra melepaskan bibirku. Ia merapikan rambutku yang sedikit berantakan, lalu menatapku tajam. "Jangan buat aku bertanya dua kali nanti, Alea. Sekarang kita kembali ke sana. Pasang wajah cantikmu," ucapnya dingin. Aku meneguk ludah, suamiku mungkin saja curiga akan sesuatu. Dia bisa saja mengetahui aku tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Kalau begini, aku tidak boleh membuang waktu lagi, aku harus segera menemukan bukti kuat lain tentang keterlibatan Prabu Atmaja, selain sisi gelap paman suamiku itu. Kami kembali ke aula. Kalandra langsung ditarik oleh beberapa kolega penting. Tangannya masih melingkar di pinggangku, tapi perhatiannya terbagi pada obrolan bisnis. Saat itulah aku melihat peluang. "Dia mau kemana?" gumamku saat melihat paman Kalandra berjalan ke satu arah.

