Hanya ada dua kemungkinan. Dia benar-benar tidak mengenaliku karena penyamaran ini terlalu sempurna, atau dia sedang bermain peran dengan sangat luar biasa untuk melindungiku sekaligus merendahkanku di depan Prabu. Tapi, mana mungkin. Apa iya, apa mungkin Kalandra tahu semua rencanaku. Aku mendadak pusing, aku takut akan semua kemungkinan yang hinggap di pikiranku. Ponsel di saku rok kerjaku bergetar kuat. Dengan tangan yang masih gemetar, aku merogohnya. Mataku membelalak saat melihat nama pengirimnya. Pesan masuk dari Kalandra. Aku menelan ludah, melirik pintu ruangan Prabu yang tertutup rapat. Dia sedang di dalam, bicara dengan pamannya, tapi bagaimana bisa dia mengirim pesan sekarang? Apa dia mengirimnya dari bawah meja sambil menatap Prabu? Aku membuka pesan itu dengan jantun

