Begitu Kalandra mematikan sambungan teleponnya, aku langsung mencondongkan tubuh ke arahnya. Rasa penasaran ini sudah di ujung tanduk, hampir membuatku sesak napas. "Milik siapa katanya, Mas?" tanyaku buru-buru. Kalandra mengembuskan napas pendek sambil melepas earphone-nya. "Benda itu kata Pak Dewanto memang tak sengaja jatuh. Dia juga kurang tahu persis itu milik siapa, tapi sepertinya milik keponakannya." "Keponakan katanya, Mas?" aku mengulang kalimat itu dengan nada sangsi. Alasan itu terdengar sangat klasik, bahkan terlalu klise untuk dipercaya. Mana ada seorang paman membawa lipstik custom milik keponakannya di kantong jas atau tasnya sampai terjatuh di mobil orang lain? Kalandra tidak menjawab keraguanku. Ia mengulurkan tangan, mengambil lipstik itu dari genggamanku d

