"Dokter kandungan?" Kalandra mengulang kata itu seperti orang linglung. Dokter Kenzo menepuk bahu suamiku pelan. Binar geli terlihat jelas di mata dokter bedah itu. "Duduklah, Kalandra. Kau menghalangi jalan Dokter Clara," tegur Kenzo santai. Kalandra menurut. Dia menarik kursi kecil dan duduk di sampingku. Matanya tidak pernah lepas menatapku dengan raut wajah yang masih dipenuhi tanda tanya besar. Dokter Clara tersenyum ramah. Wanita paruh baya itu berdiri di sisi ranjang yang lain. Beliau membawa sebuah papan d**a kecil berisi catatan medis. "Selamat siang, Bu Alea," sapa Dokter Clara hangat. "Siang, Dok," balasku pelan dari balik selang oksigen. "Saya lepas dulu ya oksigennya. Napas Bu Alea sudah terlihat sangat teratur sekarang," ucap Dokter Clara. Beliau melepaskan selang

