"Sudah," jawab Kalandra pelan. Ia menarik kursi ke dekat ranjang dan duduk menghadap istrinya. "Dia ... dia bilang apa, Mas? Dia marah padaku?" Mata Alea langsung berkaca-kaca. Kalandra menggeleng. Ia meraih kedua tangan Alea dan menggenggamnya erat. Tangan istrinya terasa sangat dingin. "Dia tidak marah. Dia sudah setuju untuk pergi jauh dari sini setelah sembuh nanti," Kalandra menjawab tenang. "Mas sudah mengurus semuanya. Kamu tidak akan pernah melihatnya lagi." Alea menghela napas lega. Bahunya yang tadinya tegang kini sedikit menurun. Namun, Kalandra tidak melepaskan tatapannya. Pria itu menatap Alea lekat-lekat, ibu jarinya terus mengusap punggung tangan Alea dengan gerakan konstan dan menenangkan. "Ada apa, Mas?" tanya Alea. "Kenapa menatapku seperti itu?" "Alea," panggil Ka

