Aku memutar kunci apartemen dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena sisa amarah di rumah Ibu. Begitu pintu terbuka, pemandangan di depanku sanggup meruntuhkan ego yang baru saja aku bangun setinggi langit. Di balik pintu, Alea sedang meringkuk di lantai. Dia masih mengenakan jubah mandi yang sama, terisak sendiri sambil mengeratkan tangan yang gemetaran. Keheningan ruangan itu hanya diisi oleh suara tangisnya yang tertahan. Begitu mendengar suara pintu, dia mendongak. Wajahnya sembap, matanya merah, dan pipinya basah oleh derai air mata yang tak kunjung berhenti. Dia menatapku dengan tatapan memohon, seolah aku adalah satu-satunya tumpuan hidupnya yang tersisa. Aku terdiam di ambang pintu. Melihatnya seperti itu, dadaku terasa sesak. Aku tahu, aku tidak akan pernah bisa

