Aku masih berusaha mengatur napas yang memburu. Jantungku berdebar sangat kencang, dan tubuhku masih terasa bergetar karena puncak yang baru saja kami capai. Keringat membasahi kulit kami yang bersentuhan, menciptakan rasa lengket yang biasanya berakhir dengan pelukan hangat dari Kalandra. Biasanya, dia akan mendekapku erat, mencium keningku lama, dan membisikkan kata-kata penenang sampai napasku kembali teratur. Tapi kali ini beda. Tanpa satu patah kata pun, Kalandra langsung menarik dirinya dariku. Suara gesekan kulit saat dia beranjak terdengar begitu dingin di telingaku. Aku hanya bisa terbaring lemas, menatap langit-langit kamar dengan mata yang masih sedikit berkaca-kaca. Aku melihat punggung tegapnya yang masih basah oleh keringat bergerak menjauh. Dia tidak menoleh. Dia tid

