Cahaya tipis dari jendela jatuh ke lantai ruang perawatan, memantul lembut ke sisi ranjang. Aku membuka mata perlahan. Udara kamar masih berbau antiseptik dan dingin. Kalandra masih duduk di kursi yang sama. Posisi tubuhnya hampir tidak berubah sejak malam tadi. Jemariku masih berada di dalam genggamannya, hangat dan kokoh, seolah dia takut melepasnya sedetik saja. Kondisiku jauh lebih stabil sekarang. Setidaknya itu yang dokter katakan beberapa jam lalu. Meski begitu, perutku masih sering terasa kaku. Sedikit saja aku bergeser, nyeri tajam langsung menyambar. Dokter menegaskan pendarahannya sudah berhenti. Tapi ancaman kelahiran prematur tetap mengintai jika aku tidak menjaga emosi. Keheningan ruangan pecah mendadak. Pintu terbuka keras hingga membentur dinding. Langkah kaki cepat

