Mobil melaju kencang menembus jalanan malam menuju rumah sakit terdekat. Di kursi belakang, Kalandra mendekapku begitu erat. Tangannya yang besar terus mengusap perutku yang terasa sekeras batu. Aku bisa merasakan keringat dingin membasahi seluruh tubuhku, dan setiap tarikan napas terasa seperti beban berat. "Sakit, Mas... di bawah sini perih sekali," rintihku sambil mencengkeram lengan kemejanya hingga buku-buku jariku memutih. Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang hangat dan basah merembes di sela pahaku, membasahi daster yang kukenakan. Aku mematung. Rasa takut yang jauh lebih besar dari saat menghadapi Jarvis tadi kini menghantamku. Dengan tangan gemetar, aku menyentuh area itu dan saat aku melihat telapak tanganku di bawah lampu jalan yang tembus ke dalam mobil, warnanya mer

