Aku menatap wajah Alea yang masih terlihat sedikit pucat di bawah lampu temaram apartemen kami. Meskipun serangan paniknya sudah mereda, aku bisa melihat sisa-sisa kelelahan di matanya yang indah. Amarah yang sedari tadi kutahan di balik dinding kesabaranku rasanya ingin meledak setiap kali mengingat bagaimana tubuhnya bergetar hebat di bandara tadi. Aku mengusap pipinya lembut, memastikan dia merasa aman di rumahnya sendiri. "Sayang, kamu istirahat ya. Tidur yang nyenyak karena besok kamu harus kembali kuliah," ucapku dengan nada yang paling tenang yang bisa kuberikan. Alea menatapku, ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Mas mau pergi sekarang? Ini sudah malam." Aku mengangguk singkat sambil merapikan letak kerah kemejaku. "Ada urusan mendadak di kantor yang harus Mas selesaika

