"Laluna?" bisik Ibu Marine dengan suara sangat pelan. Suaranya bergetar. Aku langsung berdiri dan mendekati beliau. Reaksi Ibu Marine bahkan terlihat lebih kuat dibandingkan reaksi Kalandra tadi di taman. "Iya, Bu. Namanya Laluna. Ibu kenapa? Ibu merasa pusing?" tanyaku panik. Aku segera memegang lengan beliau dan menuntunnya duduk di kursi rias di dalam kamarku. Ibu Marine duduk dengan tatapan kosong. Beliau menggeleng pelan, lalu menatapku lagi. Matanya mulai berkaca-kaca. "Ibu... apa Ibu kenal dengan adiknya Miss Mahira?" tanyaku hati-hati. "Tidak, Alea," jawab Ibu Marine dengan suara serak. "Ibu sama sekali tidak kenal siapa Miss Mahira dan keluarganya. Ibu juga tidak tahu siapa Laluna yang kamu maksud." Aku semakin bingung. "Lalu kenapa Ibu sangat kaget waktu aku menyebut nama

