Aku terdiam di dalam pelukan Kalandra. Rasanya seperti baru saja dijatuhi bongkahan es yang sangat besar. Kepalaku mendadak pening. Bukan karena hormon kehamilan yang biasa kurasakan di usia tujuh bulan ini, tapi karena fakta yang baru saja keluar dari mulut suamiku. Laluna adalah istri Mr. Jarvis. Aku mencoba mengingat kembali wajah Miss Mahira yang kutemui tadi siang. Ingatanku kembali pada taman sanggar yang teduh, pada percakapan yang awalnya terasa ringan, hingga akhirnya berubah menjadi sesuatu yang membuatku gelisah. Lalu bayangan itu beralih pada foto yang diperlihatkan Miss Mahira. Wajah wanita di foto itu identik denganku. Garis rahangnya, bentuk matanya, bahkan lekuk bibirnya terasa seperti sedang melihat cermin masa lalu. Dan wanita itu adalah adik Miss Mahira. Wanita yang t

