Pagi itu langit mendung, membuat cahaya di dalam kamar terasa suram. Aku masih meringkuk di bawah selimut, menatap meja rias tanpa gairah. Tubuhku rasanya berat sekali hanya untuk sekadar bergeser. Biasanya jam begini aku sudah rapi. Aku harus memeriksa jadwal bimbingan, menyiapkan buku, atau menemani Ibu Marine sarapan. Tapi hari ini semua rencana itu terasa jadi beban. Pikiranku yang semalam penuh dengan bayangan foto kain jarik itu membuat mentalku terkuras. Aku merasa kosong dan bosan. Aku mendengar suara pintu ruang kerja di seberang kamar tertutup pelan. Itu pasti Kalandra. Dia pasti sudah mulai memeriksa dokumen atau memimpin rapat virtual. Seharusnya aku tidak mengganggunya karena dia sudah sangat sibuk mengurus perusahaan sambil terus memantau kondisiku. Namun, rasa tida

