Aku mengerjap, merasakan sisa-sisa kehangatan semalam masih membekas di kulitku. Kalandra sudah tidak ada di sampingku, tapi suara gemericik air dari kamar mandi menandakan dia masih di sini. Tak lama, Kalandra keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambutnya yang basah membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih menawan. Dia menatapku yang masih bergelung di balik selimut. "Segera bersiap, Sayang. Aku sendiri yang akan mengantarmu ke kampus hari ini," ucapnya dengan nada perintah yang tidak menerima bantahan. Aku terduduk, menyibak rambutku yang berantakan. "Sekarang, Mas?" Kalandra berjalan mendekat, berdiri di tepi ranjang sambil menatapku dalam-dalam. "Iya. Dan aku harap, tidak ada lagi drama menyamar jadi orang lain. Jangan pernah lagi memakai kacamata besar atau ba

