Begitu pintu apartemen terbuka, Kalandra membimbingku masuk. Suasana rumah yang mewah ini terasa begitu sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kampus yang baru saja kami tinggalkan. Dia membawaku ke ruang tengah, lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselku yang sejak semalam ia sita. Kalandra meletakkan benda itu di meja kopi tepat di depanku. "Aku kembalikan ponselmu. Kamu boleh menggunakannya lagi," ucapnya dengan nada yang sangat serius. "Tapi dengan satu syarat mutlak. Jangan pernah menghubungi Ibu Marine atau menerima perintah apa pun darinya tanpa seizinku. Mengerti?" Aku terdiam, menatap ponsel itu dengan perasaan yang berkecamuk. Aku tahu Kalandra melakukan ini untuk melindungiku, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku menarik napas panjang, mencoba memberanikan di

