Aku menghentikan mobil tepat di depan lobi gedung perkantoran mewah itu. Langkahku lebar dan berat, menciptakan suara pantulan di lantai marmer yang mengiringi amarah yang masih mendidih di d**a. Begitu sampai di depan pintu kayu jati berukir nama Pratama & Co. Law Firm, aku menarik napas panjang, mencoba meredam emosi agar tetap terlihat waras. Seorang pria berdiri membelakangiku di balik meja kerja yang luas, menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca. Begitu mendengar pintu terbuka, ia berbalik. Tatapannya sangat tajam, persis seperti nama belakang yang ia sandang. "Tuan Kalandra Atmadja," sapanya dengan suara bariton yang sangat tenang namun berwibawa. Ia melangkah maju dengan tangan terulur. "Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda." Aku menjabat tangannya de

