Pintu ruang rawat VVIP itu terbuka pelan. Kalandra melangkah masuk membawa koper kabin berisi pakaian dan keperluan istrinya. Ekspresi wajahnya sangat tenang, seolah rentetan kamera wartawan yang baru saja menyerbunya di lobi rumah sakit tidak pernah ada. Senyum hangat langsung terbit di bibirnya begitu melihat Alea sudah terbangun dan duduk bersandar di tumpukan bantal. "Sudah bangun, Sayang? Perutnya masih kram?" tanya Kalandra lembut. Dia meletakkan koper itu di sudut ruangan, lalu berjalan menghampiri ranjang. Alea menggeleng pelan. Wajahnya masih pucat, dan ada gurat kecemasan yang sangat jelas tercetak di matanya. "Sudah mendingan, Mas," jawab Alea lirih. Matanya terus mengikuti setiap pergerakan Kalandra. "Mas Kalandra dari mana? Kenapa lama sekali?" "Mas pulang sebentar

