Lydia mendekatkan wajahnya, matanya melirik kanan-kiri dengan sangat waspada sebelum kembali berbisik tepat di telingaku. "Serius, Alea. Kamu itu anak baru, incaran dia banget pasti. Apa jangan-jangan ... kamu juga sudah sempat dimanfaatkan sama Milen? Maksudku, penampilan kamu yang sekarang ini ... apa karena ajakan Milen? Dia menyuruhmu dandan begini untuk bertemu seseorang?" Aku mematung. Kata-kata Lydia seperti tamparan keras yang menyadarkanku betapa butanya aku selama ini. Milen bukan hanya sekadar teman yang supel, dia adalah mucikari terselubung yang mencari mangsa di koridor kampus ini. "Nggak mungkin juga sih," gumam Lydia sebelum aku sempat menjawab. "Milen saja menghilang sejak kemarin. Kabarnya dia dijemput paksa sama orang-orang berseragam hitam tadi subuh. Dia benar-benar

