Aku duduk bersandar di sofa ruang keluarga. Kalandra duduk di sebelahku dengan tatapan kosong menatap layar televisi yang mati. Tangannya secara refleks mengusap perutku. "Mas Kalandra memikirkan Prabu lagi?" tanyaku. Kalandra tersentak kecil. Dia menoleh dan tersenyum bersalah. "Sedikit, Sayang. Mas hanya sedang menghitung langkah licik Mahendra." "Mahendra itu pengacara yang menyebalkan waktu di sidang kemarin kan? Kenapa dia mau repot mengurus harta curian Prabu padahal Prabu sudah divonis mati?" "Karena dia sangat serakah," Kalandra mendengus pelan. "Elang sudah menyelidiki profil keuangan Mahendra. Pengacara sombong itu sedang terlilit utang besar karena gagal investasi. Dia tidak peduli Prabu mati ditembak atau tidak. Dia hanya ingin mengeruk brankas rahasia Prabu di Swiss it

