"Napas pelan-pelan, Sayang. Tarik dari hidung, buang dari mulut." Kalandra mengusap keringat di dahiku dengan sapu tangannya. Aku bersandar lemas di kursi taman yang terbuat dari besi tempa. Napasku masih memburu setelah berjalan mengelilingi jalur trotoar selama dua puluh menit. Usia kandunganku sudah memasuki minggu kelima belas sekarang. Sesuai arahan Dokter Clara, aku harus mulai rutin melakukan jalan pagi ringan. "Haus, Mas," keluhku sambil mengipasi wajah dengan tangan. "Astaga, Mas lupa bawa botol minum kamu turun. Tertinggal di jok belakang mobil," Kalandra menepuk keningnya pelan. "Tunggu di sini sebentar ya. Mas ambil dulu. Jangan ke mana-mana." "Iya, Mas. Jangan lama-lama," pesanku. Kalandra berjalan cepat menuju area parkir. Aku meluruskan kaki untuk mengistirahatkan ot

