Aku berdiri di bawah pancuran air dingin, masih mengenakan kemeja putih yang kini sudah berubah warna menjadi kemerahan di bagian lengan. Aku tidak peduli. Biarkan air dingin ini menusuk kulitku, biarkan rasa menggigil ini mengalihkan rasa sakit yang mengoyak dadaku. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan itu kembali hadir. Suara tiiiiit yang panjang dari monitor jantung itu, kegelapan yang tiba-tiba menyergap, dan yang paling menghancurkan adalah tatapan Alea. Istriku menatapku seolah aku adalah monster. Dia gemetar karena sentuhanku. "b******k!" raungku sambil menghantamkan kepalan tanganku yang sudah hancur ke dinding marmer. Rasa perih menyengat buku jariku yang robek, tapi aku justru menikmatinya. Aku butuh rasa sakit fisik ini supaya aku tidak gila. Aku melihat air di baw

