Kalandra berdiri tegak di depan pintu ICU, napasnya memburu dengan mata yang memerah sempurna. Begitu pintu terbuka, ia langsung merangsek maju, mencengkeram kerah baju dokter itu hingga sang dokter terhuyung ke belakang. "Apa-apaan tadi itu? Kenapa lampu bisa mati di saat kritis seperti itu?!" bentak Kalandra. Suaranya menggelegar, memenuhi koridor yang sunyi. "Ini rumah sakit macam apa? Kalau terjadi sesuatu pada istriku karena kegagalan teknis kalian, aku akan ratakan tempat ini!" Dokter itu tampak pucat, ia mengangkat kedua tangannya dengan gemetar. "Tuan Kalandra, saya benar-benar minta maaf. Ada kegagalan pada sistem cadangan daya kami selama beberapa detik. Teknisi sedang memeriksa semuanya. Kami benar-benar memohon maaf atas gangguan teknis yang tidak seharusnya terjadi ini

