Dokter itu menepuk pundakku pelan sebelum beranjak. "Tuan Kalandra, silakan masuk. Pasien sudah dipindahkan ke ruang perawatan intensif yang lebih tenang. Anda bisa menemaninya di dalam," ucap dokter itu. Aku menatapnya dengan ragu. "Apa dia akan histeris kalau melihat saya?" "Kondisinya sudah jauh lebih stabil karena lingkungan di sini tenang. Pasien memang masih dalam pengaruh obat, tapi kehadiran orang terdekat justru sangat membantu pemulihan trauma sarafnya. Bicara saja dengan nada lembut, jangan membuat gerakan yang mengejutkan." Aku mengangguk singkat. "Terima kasih, Dokter." Aku berjalan menuju pintu kamar Alea. Tanganku tertahan sejenak di gagang pintu. Ada rasa takut yang aneh, takut jika tatapan kosong itu kembali menyambutku. Aku menarik napas panjang, mencoba menetr

