Suara pena yang digoreskan di atas kertas memecah keheningan ruangan itu. Kalandra meletakkan pulpen mahal itu di atas meja kaca. Di hadapannya, Presiden Baskara mengangguk kaku sementara ajudannya segera membereskan berkas perjanjian rahasia tersebut. "Pegang janji Anda, Pak Presiden," ucap Kalandra tajam. "Saya mengerti konsekuensinya," jawab Presiden Baskara. "Keano akan diterbangkan malam ini juga." Presiden memberi isyarat kepada Paspampres. Tanpa banyak bicara, mereka membawa Keano keluar lewat pintu belakang. Pria itu tidak lagi meronta. Tatapannya kosong saat digiring pergi. Mungkin karna petugas kesehatan pribadi keluarganya sudah memberi obat penenang. Setelah pintu tertutup dan ruangan itu hanya menyisakan kami dan Elang, bahu Kalandra turun. Ketegangan yang sejak tadi m

