"Kamu nyaris tidak memejamkan mata sejak bangun tadi, Alea. Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?" Suara rendah Kalandra memecah keheningan kamar. Aku menoleh perlahan. Dia berdiri di samping ranjang sambil memegang gelas air hangat. Wajahnya kelihatan sangat lelah. Ada bayangan jenggot tipis di rahangnya yang belum sempat dicukur, tapi tatapan matanya tetap lembut seperti biasa. Aku menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Kalandra membantuku duduk agak tegak dan menempelkan pinggiran gelas ke bibirku. Air hangat itu terasa enak di tenggorokanku yang kering, tapi rasa sesak di dadaku tidak juga hilang. "Terima kasih, Mas," bisikku pelan. Kalandra menaruh gelas itu di meja, tepat di sebelah monitor detak jantung. Dia duduk di pinggir ranjang dan merapikan sel

