Ibu Marine mengangguk cepat. "Nanti Ibu minta manajer kafe mengirimkan foto data karyawannya lewat chat. Berkas aslinya ada di kantor kafe." Setelah pembicaraan yang menegangkan itu, aku kembali ke kamar rawat Alea. Istriku sudah terlelap, wajahnya tampak damai meskipun ada sedikit kerutan di dahi, mungkin karena sisa trauma yang membekas. Aku duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangannya yang bebas dari infus, sementara tangan lainnya memegang ponsel, menunggu kiriman dari Ibu Marine. Ting. Sebuah pesan masuk. Foto KTP dengan pencahayaan agak buram, namun nama dan wajahnya terlihat sangat jelas. "Keano Kalamari Hadinata?" gumamku saat mengeja nama itu teliti. Aku mengerutkan kening. Nama belakang itu terasa sangat tidak asing di telingaku. Hadinata. Ada berapa banyak H

