"Mas. Jangan bercanda." Aku menatap punggung Kalandra yang kaku. "Aku tidak bercanda, Alea. Pintunya terkunci dari luar. Kuncinya tidak ada di lubangnya." Kalandra memutar gagang pintu itu sekali lagi dengan kasar. Klek. Klek. Suara besi beradu itu terdengar nyaring di telingaku. Tapi pintu itu tetap diam di tempatnya, kokoh tak bergeming. "Ibu pasti mengira ini gudang kosong dan menguncinya demi keamanan. Kuncinya dicabut." Aku lemas seketika. Kakiku yang tadi sudah gemetar karena sisa pelepasan kini semakin tak bertenaga. Aku merosot duduk di karpet bulu. "Terus kita gimana? Ponsel aku di kamar. Ponsel kamu juga di sana." Kalandra berbalik. Wajahnya tampak berpikir keras, tapi tidak ada kepanikan di sana. "Kita tunggu sampai besok pagi. Ibu biasanya bangun pagi-pagi sekali

