"Mas, mampir beli martabak ya? Buat Ibu," tawarku saat kami menunggu mobil. Kalandra menatapku dengan alis terangkat. "Martabak? Berminyak, Alea. Ingat kata dokter?" Aku cemberut. "Dikit aja Mas. Aku cuma nyicip acar timunnya. Sisanya buat kamu sama Ibu." Kalandra tertawa kecil, tangannya mencubit pipiku. "Ya sudah. Satu potong. Sisanya jatah aku." Mobil sport hitam Kalandra berhenti di depan kami. Petugas valet membukakan pintu. Suasana di dalam mobil sangat hangat. Kami membahas nama-nama bayi hingga dekorasi kamar. Namun, kebahagiaan itu terusik saat ponsel Kalandra di dashboard menyala terus-menerus. Ting! Ting! Ting! Notifikasi pesan masuk bertubi-tubi. Kalandra melirik sekilas. Keningnya berkerut dalam saat melihat notifikasi itu bukan dari kantor, tapi dari tag berita bi

