Satu minggu berlalu sejak kepergian Ibu Marine ke Tokyo. Penthouse ini rasanya masih terlalu luas bagi kami berdua. Kalandra memang berusaha memenuhi setiap sudut ruangan dengan perhatiannya. Kadang kemesraannya sampai membuatku kewalahan. Tapi aku tetap merindukan suara langkah kaki Ibu yang tegas. Aku juga rindu aroma masakan rumahannya yang menenangkan. Sore itu, aku sedang duduk di teras balkon. Ponselku tiba-tiba bergetar. Nama Ibu Marine muncul di layar. Aku langsung mengangkatnya dengan cepat. "Halo, Ibu! Kapan pulang? Alea sudah kangen banget," sapaku antusias. Terdengar helaan napas lembut di seberang sana. Suara riuh bandara atau stasiun menjadi latar belakangnya. "Maaf ya, Sayang. Sepertinya Ibu belum bisa pulang ke Indonesia dalam waktu dekat." Senyumku perlahan l

