61. Berlari ke Pelukan Dewangga

1561 Kata

Hening yang tercipta di dalam kabin mobil terasa jauh lebih menyesakkan daripada suara guntur yang sesekali menggelegar di luar. Aroma sandalwood dan cedarwood dari parfum Dewangga yang memenuhi ruangan sempit itu seolah menarik Aruntala kembali pada kenangan-kenangan yang selama dua bulan ini sudah susah payah ia kubur dalam-dalam. ​Aruntala memilih untuk melemparkan pandangannya ke luar jendela, menatap butiran air hujan yang berkejaran di kaca mobil. Jantungnya masih berdegup tidak karuan. Ini adalah kali pertama setelah perpisahan mereka, ia kembali berada di ruang yang sama, sedekat ini, dengan pria yang pernah menjadi pusat dunianya. ​Di sampingnya, Dewangga duduk dengan posisi tegak, fokus mengemudi menembus kemacetan Jakarta yang semakin menggila akibat hujan. Meski matanya menat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN