Gedung bertingkat dengan logo besar Langston group sore itu sudah mulai sepi, menyisakan beberapa staff yang masih berlalu lalang karena lembur termasuk lampu di lantai tertinggi yang masih menyala terang. Yap, Dewangga masih di sana, menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran sambil menatap kosong ke arah pemandangan di luar dinding kacanya yang mulai menggelap karena mendung. Dewangga memijat pangkal hidungnya. Sudah hampir satu bulan sejak perpisahannya dengan Aruntala, dan kehampaan itu terasa semakin nyata. Berpura-pura professional atas perasaannya sendiri itu ternyata ribuan kali lebih melelahkan daripada memimpin ribuan karyawan. Setiap kali Aruntala masuk membawakan kopi atau dokumen untuk ditandatangani, aroma tubuh Aruntala selalu berhasil mengacaukan fokusnya. “Aru...” b

