Herra melangkah dengan sangat hati-hati, melepas sepatu hak tingginya agar suara langkahnya tidak menggema di lantai marmer yang dingin. Jantungnya berdebar kencang. Niat hati hanya ingin menambah durasi 30 menit setelah panggilan tak terjawab dari Dewangga tadi, namun gairahnya bersama Gerrald justru membuatnya terlena hingga hampir tengah malam ia baru menginjakkan kaki di rumah. Ia mengembuskan napas lega saat berhasil mencapai lantai atas tanpa berpapasan dengan satu pelayan pun. Dengan gerakan perlahan, ia meraih gagang pintu kamar, memutar kenopnya sesenyap mungkin, lalu melangkah masuk. Klik. Herra menyalakan lampu kamar, berharap bisa segera berganti pakaian dan berpura-pura baru saja membersihkan diri. Namun, seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas. Di sana, di tengah rua

