63. Sebuah Fakta Besar yang Terkuak

1124 Kata

Keheningan di antara mereka pecah saat Dewangga mencondongkan wajahnya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Napasnya yang hangat terasa begitu nyata, memburu di permukaan kulit Aruntala. ​“Balas ciumanku, jika kau masih menginginkanku, Aru,” bisik Dewangga, suaranya terdengar seperti perintah sekaligus permohonan yang penuh keputus asaan. ​Sebelum Aruntala sempat menarik napas untuk menyangkal, Dewangga sudah membungkam bibirnya. Ciuman itu tidak dimulai dengan ledakan amarah seperti malam-malam sebelumnya, melainkan dengan kelembutan yang menyakitkan—sebuah tarian bibir yang menuntut pengakuan atas segala rindu yang selama ini mereka tahan habis-habisan. ​Aruntala sempat membeku, tangannya yang berada di d**a Dewangga mengepal kuat, berusaha mendorong fengan sekuat t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN