Lea menatap mata suaminya. Ia masih tetap tidak berani berlama-lama menatap kedua mata Jeje yang begitu tajam. Jeje mengusap-usap punggung Lea, dan menunggu sampai tangisan Lea berhenti. "Udah jangan nangis, berhenti nangisnya." Lea mendongak menatap suaminya, dan menarik napas gemetar. "Aku takut liat kamu marah, aku minta maaf, Mas." Air mata Lea menggenang lagi. Jeje menarik sejumput tisu dari kotak di nakas. Ia menghapus air mata yang mengaliri pipi merah istrinya. "Tahu apa kesalahan kamu?" Lea mengangguk. Wajahnya semakin memerah dan berkilau karena air mata, bulu matanya mencuat gara-gara basah. "Aku tahu, Mas. Karena aku nggak ikutin perintah kamu. Seharusnya aku nggak pergi ke pesta Diandra. Tapi, aku malah tetap pergi, aku salah." Lea kembali menangis tersedu. Jeje

