“Ya… itu…” Alisnya bertemu pelan. “Panjang banget,” akhirnya Tiara bersuara pelan. “Intinya aku tadinya bahkan nggak bisa hamil, Van. Kamu tahu kan… dulu waktu aku masih gila sama si cowok psiko.” Vanila mengangkat wajahnya cepat. “Astaga. Andra maksudnya?” Tiara mengangguk pelan. “Iya. Dia.” Tangannya masih ada di perutnya sendiri. Jarinyanya bergerak pelan, seperti refleks. “Aku nggak bisa hamil. Rahimku kena dampaknya. Dokter bilang ada trauma karena kekerasan.” Vanila menahan napas, ia mulai mendekati Tiara lebih menempel sambil memegang tangannya yang terasa dingin. “Aku sempat nerima kenyataan kalau aku nggak bakal bisa punya anak. Terus… suamiku yang maksa aku buat nggak nyerah.” Matanya berkilat kecil, tapi suaranya tetap lembut. “Dia yang ngurus semuanya, Van. Vanila tida

