Keyza sudah berdiri lebih dulu, meraih tasnya yang tergeletak di kursi. Makan siang mereka akhirnya selesai dengan suasana yang—entah kenapa—tetap terasa canggung meski diselingi tawa kecil di sana-sini. Keyza yang lebih sering berdebat dengan Rafael. Dan Nayara yang tetap saja banyak diamnya dengan Revan. Rafael pamit lebih dulu karena harus kembali ke rumah sakit. Tinggallah Nayara, Keyza, dan Revan di area parkir café. Nayara berjalan di samping Keyza menuju mobil sahabatnya. Tangannya sudah terulur hendak membuka pintu penumpang ketika sebuah suara menghentikannya. “Aku anter ya?” Suara itu tenang. Lembut. Tapi cukup untuk membuat langkah Nayara terhenti. Revan berdiri beberapa langkah di belakang mereka, menatap Nayara dengan ekspresi serius. “Nggak usah, Mas,” jawab Nayara cepat

