78 | Mata ke Mata

1820 Kata

Anak kita? Mulut Baja yang sudah mangap hendak bicara auto terkatup lagi, berganti senyum yang susah payah Baja hentikan. Di sini, Singapura. Baja sedang berjalan menyusuri tepian Marina Bay sendirian sehabis memenuhi undangan yang sesungguhnya dari Tuan Tan. Baja menghubungi Aylin sekaligus ingin tahu kenapa pesannya belum juga dibaca. Eh, ternyata sedang main bersama Maharani. "Mas ganggu, dong, ya?" Langkah Baja henti sesaat sekadar menikmati obrolan dengan istrinya. "Nggak, kok. Gibahnya hampir selesai. Ini kami mau pulang." "Gibah apa, sih? Kok, gibah? Dosa itu, Lin." "Itu, lho ... Rani nanya-nanya soal Om Raja. Kan, aku cerita kalau doi nyatain perasaannya kemarin." Baja ber-oh ria. "Sama ngomongin Mas juga," tambah Aylin. "Soal apa?" "Adalah pokoknya." Dasar. Nanti saja d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN