Alfredo tersenyum, dia mengerti dengan yang dirasakan Zalikha, oleh karena itu pula dia memerintahkan pelayan membawakan buah potong untuk menantunya itu. “Buah memang bagus, tapi kamu juga butuh karbohidrat untuk energi. Harus seimbang biar kamu nggak lemas!” kata Alfredo mengingatkan. Zalikha mengangguk. “Iya, Pi. Makasih sudah mengerti keadaanku!” ucapnya. Alfredo terkekeh pelan. “Jadi ingat ketika dulu Mami mertuamu mengandung Daylon, dia juga sama payahnya sama kamu, bahkan lebih parah. Dia nggak bisa makan nasi bahkan sebutir pun!” kenangnya dengan pandangan mengambang. Zalikha pun tertarik mendengarnya. “Benarkah? Jadi Mami makan apa, dong?” tanyanya penasaran. “Oat, dia hanya bisa makan oat dengan s**u coklat hangat!” ujar Alfredo sambil tersenyum, matanya tampak berkaca-kaca

