107.

1873 Kata

Calista terbaring menyamping, kepala bertumpu pada telapak tangannya. Di hadapannya, Bima masih tertidur lelap. Nafasnya teratur dan dalam, bayangan hitam di bawah matanya tampak jelas di cahaya pagi yang mulai menyelinap melalui celah tirai. Hari Minggu. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul delapan lebih, tapi Calista sama sekali tidak berniat membangunkannya. Bengkel seharusnya libur akhir pekan sesuai kesepakatan baru yang dia desak untuk diterapkan mengingat sistem kerja tanpa henti Bima dan Juned yang selalu dia anggap tidak sehat. "Kita bebas atur sendiri hari liburnya, Cal," kata Juned waktu itu. "Kalau mau libur ya libur, asal laporan dulu biar gak bentrok sama yang lain." Tapi bagi Calista, "kebebasan" itu hanya ilusi. Nyatanya, mereka selalu menemukan alasan untuk masuk, mesk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN