124. Surat-2

972 Kata

"Dam!" Abby memelototinya, pipinya merona. Damian tertawa kecil. Tawanya hangat, menggema di kamar yang sunyi. "Aku menunggu." Abby berbicara lagi, matanya tidak berkedip. Damian menatapnya lama. Lalu ia mendekat, bibirnya menyentuh pangkal hidung Abby, lembut, pelan, seperti sedang mengecup sesuatu yang berharga. "Ya, Abby." Suaranya lirih, tapi jelas. "Aku mencintaimu." Abby membeku. Matanya membelalak. "Apa?" Damian tersenyum, menarik sedikit. "Maaf, tidak ada siaran ulang." "Damian!" Abby memukul dadanya pelan, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan. Pipinya merah, matanya berbinar. Damian menangkap tangannya, menggenggam erat. "Sekarang tidur." Ia menekan Abby ke ranjang, menarik selimut menutupi tubuhnya. "Istirahat yang cukup." Abby masih tersenyum, matanya masih menatap Da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN