LEVEL MENTAL

1949 Kata

Mobil melambat sebelum akhirnya berhenti di depan gerbang yang tak terlihat seperti restoran. Tak ada papan nama mencolok. Tidak ada lampu neon. Hanya lorong masuk yang dibingkai pepohonan tinggi, dengan lampu-lampu temaram berwarna hangat menggantung rendah—seperti kunang-kunang yang sengaja dipelihara. Helia menahan napas tanpa sadar. Meski ini kali keduanya datang, tetap saja keindahan tempat itu membuatnya takjub. Bintang bergegas turun, membuka pintu untuk Munik dengan sopan. Munik melangkah keluar… lalu terdiam. Langkahnya tertahan bukan karena emosi, melainkan pandangan yang terpaku. Di hadapan mereka, terbentang taman dengan jalur batu alam yang berkelok lembut. Pepohonan menaungi area makan terbuka, akar-akarnya dibiarkan terlihat, dililit tanaman rambat yang ditata seolah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN